} Kue Cokelat Panggang untuk Ibu - Rumah Kurcaci Pos

Kue Cokelat Panggang untuk Ibu

                 
Ilustrasi Diani Hapsari

           Kue Cokelat Panggang untuk Ibu
                                      Bambang Irwanto

“Aduh... gosong lagi,” keluh Lipi saat mengeluarkan kue cokelat dari dalam oven.
Pili yang melihat asap mengepul-ngepul segera menghampiri saudara kembarnya itu.
“Yah..gosong.” seru Pili kecewa. “Padahal Ibu sudah mengajarimu cara memanggang kue.”
“Maafkan aku ya, Pi,” ucap Lipi menyesal. “Padahal aku sudah berusaha, tapi sayangnya aku lupa mengecilkan api kompor.”
“Ya, sudah. Tidak apa-apa kok. Yuk, kita membeli bahan kue lagi. Masih ada waktu kok, sebelum Ayah dan Ibu pulang.”
Lipi mengangguk.
Hari minggu ini, Lipi dan Pili berencana membuat kue bolu cokelat panggang untuk Ibu, sebagai hadiah ulang tahun. Makanya sejak pagi mereka sibuk di dapur. Ayah dan Ibu sedang pergi ke rumah Paman Kilu, adik Ibu.
Lipi dan Pili segera menuju toko Pak Hud di ujung desa. Bruk... Tiba-tiba Lipi dan Pili mendengar sesuatu, saat melewati kebun bunga Nenek Arita. Mereka bergegas melihat apa yang terjadi.
“Wah.. Nenek Arita terjatuh!” seru Pili sambil masuk ke kebun bunga dan membantu Nenek Arita berdiri. “Nenek tidak apa-apa?”
Nenek Arita menghapus keringat di dahinya. Iya, saya lelah sekali,” keluh Nenek Arita.
“Seharusnya Nenek beristirahat saja,” kata Lipi.
“Iya. Tetapi bunga-bunga di kebun harus segera dipetik. Sebentar lagi Pak Ron akan datang mengambil bunga untuk dijual di pasar.”
Pili menyenggol lipi. “Kita bantu Nenek Arita, yuk!”
Lipi terdiam sejenak. “Aduh...nanti kita telat membuatkan Ibu kue cokelat panggang.”
“Sebentar saja,” bujuk Pili.
Lipi akhirnya setuju. Ia dan Pili membantu Nenek Arita memotong bunga Lili. Ternyata bunga yang hendak dipanen banyak sekali. menjelang siang pekerjaan Lipi dan pili baru selesai.
“Wah.. Nenek Arita tertidur. Kita letakkan saja bunga-bunga Lili ini di teras,” kata Pili.
Setelah pekerjaan selesai, Lipi langsung menarik tangan Pili menuju toko  Pak Hud.
“Pak, kami ingin membeli bahan kue,” kata Lipi.
“Sayang sekali. tepung terigu baru saja habis. Nyonya Amelia memborong sekarung, karena besok ada pesta kecil di rumahnya,” kata Pak Hud.
Lipi langsung kecewa. “Aduh bagaimana ini, Pi?” semua gara-gara kamu yang membatu Nenek Arita.”
“Ya, mau bagaimana lagi. Masa kamu tega melihat Nenek Arita,” bela Pili.
Lipi berjalan pulang. Pili mengikuti langkah Lipi. Sepanjang perjalanan Lipi diam saja. Ia kesal sekali pada Pili.
“Lipi, Pili... ayo kemari!” panggil Nenek Arita saat Lipi dan Pili melintas di depan rumahnya.
Uh, pasti Nenek Arita meminta bantuan lagi, gumam Lipi kesal. Wajahnya langsung cemberut.
Lipi ingin berjalan pulang, tetapi Pili sudah menarik tangannya untuk menghampiri Nenek Arita yang berdiri di depan rumahnya.
“Nenek sudah sehat?” tanya Pili.
“Iya, Nenek tadi tertidur. Maaf ya, kalian pulang saat Nenek tidur. Padahal kalian sudah membantu Nenek.”
“Tidak apa-apa, Nek. Kami memang harus segera ke toko Pak Hud membeli bahan kue.”
“Oh ya. kalian ingin membuat apa?” tanya Nenek Arita.
Pili segera menceritakan pada Nenek Arita.
“Aduh, kasihan sekali. Gara-gara Nenek, kalian kehabisan tepung terigu. Ehm tapi Nenek ada akal. Ayo masuk!” nenek Arita membuka pintu lebih lebar.
Pili segera mengikuti Nenek Arita, sedangkan Lipi di luar saja.
“Lipi, ayo masuk!” ajak Pili.
“Uh.. pasti Nenek Arita ingin meminta bantuan kita lagi,” keluh lipi.
Lipi dan Pili menyusul Nenek Arita di dapur. Nenek Arita segera membuka lemari dapurnya. Ia mengeluarkan terigu, mentega, telur, cokelat.
“Nenek mau membuat kue?” tanya Lipi.
Nenek Arita mengangguk. “Iya, kue untuk Ibu kalian.”
“Betulkah, Nek?” tanya Lipi tidak percaya. Wajahnya langsung ceria.
“Iya, kalian kan, sudah membantu nenek. Kalian mau membantu nenek membuat kue kan?”
“Mau, Nek!” jawab Lipi dan Pili kompak.
Lipi membantu mengocok telur, sedangkan Pili membantu mengolesi margarin. Sebentar saja kue cokelat panggag sudah jadi.
“Wah... harumnya, Nek.” Puji Lipi
“Pulanglah, Ibu kalian pasti sudah menunggu.”
Setelah mengucapkan terima kasih, Lipi dan Pili pulang dengan gembira.
“Untung ada Nenek Arita ya, Pi. Kita bisa memberikan kue cokelat panggang untuk Ibu,” kata Lipi gembira.
“Iya dan dijamin rasanya enak dan tidak gosong,” goda Pili.
“Ah... Pili,” pipi Lipi bersemu merah.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kue Cokelat Panggang untuk Ibu"

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung ke Rumah Kurcaci Pos. Tidak diperkenankan menggunakan konten di blog ini, tanpa seizin Kurcaci Pos. Terima kasih.