3 Apr 2017

Meru Semut Merah

Dimuat di Majalah Bobo edisi 47, 2 Maret 2017


Meru Semut Merah
Oleh: Agnes Dessyana

            “Meru, ikut kami mengumpulkan makanan,” ajak Emu, sahabatnya.
            “Malas ah. Aku ngantuk.”
            Emu menggelengkan kepalanya dan pergi meninggalkan Meru. Meru adalah seekor semut merah yang terkenal sangat malas. Ketika teman-temannya mencari gula atau makanan manis lainnya, Meru hanya tidur. Tetapi, ketika teman-temanya datang membawa makanan, Meru selalu makan paling banyak.
            Berkali-kali Meru telah ditegur oleh Ratu Semut Merah dan Emu.Tetapi Meru tetap tidak mau ikut mencari makanan. Para semut merah lain sudah sangat kesal dengan kelakuan Meru, tapi masih mencoba bersabar.
            Suatu ketika, tibalah musim hujan yang berkepanjangan. Kawanan semut merah mulai sulit mencari makanan dan persediaan makanan juga mulai habis.
            “Kita harus berjuang lebih keras untuk mencari makan,” ujar Ratu Semut Merah. “Akan berbahaya jika kita sampai kehabisan makanan.”
            Para semut merah mengangguk setuju dan berjanji untuk bekerja lebih keras. Semua sangat antusias untuk mencari makanan lebih rajin. kecuali Meru, si pemalas. Meru terus saja mengerutu.
            Bekerja keras adalah hal yang sangat tidak menyenangkan bagi Meru.Meru hanya ikut pergi untuk mendapat santapan pertama dari makanan yang didapatkan oleh teman-temannya.
Suatu siang, saat Meru sedang berjalan-jalan di bawah pohon, ia melihat sekelompok semut hitam sedang menyantap kue manis.
Sepertinya enak. Pikir Meru. Aku ingin sekali mencoba kue itu. Tapi, bagaimana caranya.
Di saat itu, Meru melihat seorang manusia lelaki merokok di samping pohon. Ia melihat banyak debu-debu hitam jatuh dari puntung rokok yang dihisapnya. Sebuah ide muncul dalam otak Meru.
Meru perlahan berjalan ke atas debu rokok dan melapisi badannya yang merah. Ia pun berubah menjadi seperti seekor semut hitam.
Meru kemudian mendekati kawanan semut hitam yang sedang menyantap kue manis.
“Hai, boleh aku ikut bergabung?” sapa Meru.
Para semut hitam itu saling berpadangan. Mereka mendekatkan diri pada Meru dan menggosok-gossokkan sungut mereka. Tanda perkenalan pada semut baru.
Kawanan semut hitam itu memperbolehkan Meru ikut makan. Meru makan dengan lahap.Setelah selesai makan, ia pergi meninggalkan kawanan semut hitam. Ia kembali ke liang rumahnya dan tidur.
Keesokan harinya, hal yang sama dilakukan Meru. Ia menyamar untuk mengelabui kawanan semut hitam. Beberapa kali, Meru melakukan hal itu demi mendapat makanan gratis.
Meru sangat senang. Ia bisa tetap bersantai dan mendapat makanan enak. Namun, kejadian itu tidak berlangsung lama. Pada suatu siang saat ia menyamar, nasib sial mendatanginya.
Saat sedang menikmati makanan, setetes embun menyiram badan Meru. Debu yang melapisi tubuhnya luntur dan badannya berubah merah.
“Kamu bukan kawanan kami!” seru salah satu semut hitam.
Semut hitam yang lain juga marah. “Kamu telah menipu kami.”
Kawanan semut hitam itu marah dan melaporkan Meru pada Ratu Semut Merah.
Ratu Semut Merah marah. “Meru, kamu sangat tidak setia. Saat teman-temanmu bersusah payah mencari makan, kamu malahmenipu semut hitam.”
Meru hanya menunduk. Ia akhirnya diusir dari kawanan semut merah.
Sejak saat itu, Meru hidup sendirian.Tidak ada yang mau menemani semut merah yang pemalas. Ia sekarang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan makanannya. Ia mencari makan sendirian dan tidur sendirian.
Meru yang dulu malas sekarang berubah menjadi semut yang rajin dan giat bekerja. Ia sekarang tahu pentingnya bekerja keras demi mendapatkan makanan. Satu hal yang kurang adalah Meru merasa sangat kesepian. Meru rindu dengan teman-temannya, terutama Emu, sahabatnya. Tapi, ia tidak berani untuk kembali ke liang lamanya.
Mereka terlihat sangat gembira bersama. Aku menyesal telah bersikap jahat pada mereka. Pikir Meru dengan sedih sambil menatap Emu yang sedang mengangkut nektar bersama dengan beberapa semut merah lain.
Kebetulan Emu melihat tatapan Meru. Emu pun menjadi iba pada sahabatnya. Emu pun mendekati Meru.
“Meru, bagaimana kabarmu?”
“Aku baik,” jawab Meru singkat.
Meru baru akan pergi meninggalkan Emu ketika Emu menahannya.
“Kamu mau ikut bergabung lagi dengan kami?”
Meru menatap Emu. “Apakah bisa?”
Emu menatap teman-teman semut merah lain. Awalnya, mereka enggan tapi akhirnya setuju karena merasa kasihan dengan Meru. Kawanan semut merah itu kemudian meminta persetujuan dari Ratu Semut Merah.
“Baiklah, Meru boleh kembali ke liang ini,” ujar Ratu Semut Merah. “Tapi, ia harus berjanji untuk tidak malas lagi.”
Meru mengangguk. Ia merasa bahagia ketika diterima oleh teman-temannya. Ia tidak lagi hidup sendirian. Ia kini bekerja dengan rajin bersama teman-temannya. Meru, si pemalas telah berubah. Dalam hatinya, ia berjanji untuk tidak pernah malas lagi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung ke Rumah Kurcaci Pos. Tidak diperkenankan menggunakan konten di blog ini, tanpa seizin Kurcaci Pos. Terima kasih.