22 Apr 2017

Pak Weling

Dimuat di Majalah Bobo - Foto Yulina 


PAK WELING
Oleh: Yulina Trihaningsih

            Pak Weling adalah kurcaci tua dengan kerut-kerut tebal di wajahnya. Jenggot panjang berwarna kelabu tampak menghiasi dagunya. Sepasang mata hijaunya tampak awas melihat sekelilingnya. Pak Weling jarang tersenyum, sehingga banyak kurcaci yang enggan menyapanya.
            Sebenarnya, Pak Weling tidak jahat. Ia hanya tidak suka keramaian dan berkumpul bersama kurcaci lain. Ia lebih suka menghabiskan waktunya di rumah mungil dan kebun apel miliknya, yang terletak di ujung desa kurcaci.
            Pagi ini, Pak Weling sudah berada di kebun apelnya. Ia berjalan perlahan-lahan di antara pohon-pohon apel yang rimbun. Buah apelnya jenis istimewa. Berwarna putih keperakan, dan rasanya manis dan renyah bila digigit.
Dua hari lagi waktunya panen. Apel-apel itu harus dipetik tepat sebelum salju pertama turun. Karena, apel-apel itu akan langsung membusuk bila terkena salju.
            “Selamat pagi, Pak Weling,” sebuah sapaan ramah terdengar dari pinggir pagar kebunnya. Pak Weling melihat siapa yang datang. Oh, ternyata Gus, si kurcaci pos.
            “Pagi,” balas Pak Weling singkat.
            “Aku membawa surat undangan kerja bakti besok pagi, Pak,” Gus tersenyum sambil menyerahkan selembar kertas putih.
            Pak Weling menerimanya sambil cemberut. “Terima kasih, Gus. Tapi, akhir-akhir ini aku mudah lelah, dan sakit kakiku sering kumat.”
            “Oh, semoga engkau cepat sembuh, Pak Weling. Nanti akan aku sampaikan pada Pak Kepala Desa.” Gus berlalu sambil mendorong gerobaknya yang berisi surat dan paket untuk warga desa kurcaci.
            Begitulah selalu sikap Pak Weling bila diundang.
Minggu lalu, ia menolak ajakan Bu Tapsi tetangganya untuk menjenguk Nyonya April yang sudah seminggu sakit. Pak Weling beralasan sibuk membasmi ulat yang terlihat ada di beberapa pohon apelnya. Bahkan, saat ada undangan perayaan ulang tahun desa kurcaci di balai desa, Pak Weling pun tak datang.
            “Masih banyak hal lain yang bisa kukerjakan di rumah. Aku bisa menyiangi rumput liar, atau menambal baju kerjaku,” begitu kata Pak Weling kepada dirinya sendiri. “Aku senang melakukan semua hal sendirian. Lagipula, aku, kan tidak pernah merepotkan kurcaci lain.”
            Hari panen telah tiba. Pak Weling sudah menyiapkan setumpuk keranjang untuk tempat menyimpan apel-apelnya. Pak Weling memandang barisan apel yang ranum dan berjuntai rendah di tangkai pohon dengan puas.
            Dengan bantuan tangga, Pak Weling memutuskan untuk memetik buah apel yang letaknya tinggi terlebih dahulu. Ketika sudah hampir berada di puncak tangga, Pak Weling terpeleset dan jatuh dari ketinggian.
            Gedebuk! Suara tubuh Pak Weling ketika beradu dengan tanah yang tertutupi rumput terdengar kencang.
            “Wadooow ...” Pak Weling menjerit kencang. Oh, Pak Weling yang malang! Pasti sakit sekali rasanya. Langkah kaki berlari terdengar mendekat. Gus terbelalak menatap Pak Weling yang meringis kesakitan di tanah.
            “Ya ampun, Pak Weling, mari aku bantu,” Gus bergegas memapah Pak Weling. Pak Weling berteriak ketika berusaha berdiri. Wajahnya memerah, dan matanya berair. Dengan cepat, Gus memapah Pak Weling menuju gerobaknya. Ia langsung membawa Pak Weling ke rumah Dokter Ryu di tengah desa.
            “Sepertinya, kau harus beristirahat selama dua hari di sini, Pak Weling,” kata Dokter Ryu tenang sambil membalut kaki Pak Weling dengan perban.
            “Dua hari? Tidak mungkin! Aku harus memanen kebun apelku!” seru Pak Weling tidak sabar.
            “Tapi, kau juga tak bisa memanen kebun apelmu dengan kaki terkilir seperti ini.”
            Pak Weling kecewa sekali. Ia terus memikirkan kebun apel yang sangat dicintainya.
            Dua hari kemudian, dengan naik gerobak Gus, Pak Weling pulang ke rumah. Wajahnya muram dan hatinya murung. Sepanjang jalan, desa kurcaci tampak indah berkilauan tertutup lapisan berwarna putih. Ya, salju pertama telah turun semalam.
Pak Weling sedih memikirkan apel-apelnya yang tentunya sudah membusuk di pohon. Ia juga teringat belum memasukkan kayu bakar untuk membuat perapian. Rumahnya tentulah dingin dan sunyi.
Ketika sampai, Gus membantu memapah Pak Weling untuk berjalan. Begitu memasuki pintu rumahnya, Pak Weling terbelalak. Lidah api menari-nari di perapian, mengirimkan udara hangat ke seluruh ruangan. Di dapur, tampak Nyonya April, ibu Gus, mondar-mandir sedang memanggang kue. Aroma manis ini... tak salah lagi, ini pasti tart apel kesukaannya!
“Warga desa kurcaci membantu memanen kebun apelmu kemarin, Pak Weling,” Gus berkata bersemangat. “Semua apelmu sudah aman di gudang, sekarang.”
“Oh, selamat datang Pak Weling,” Nyonya April menyambut ramah. “Aku harap, kau tidak keberatan aku buatkan tart apel dari beberapa butir apelmu yang terjatuh di kebun.”
Pak Weling berterima kasih sambil tersenyum malu. Ternyata, tak selamanya ia mampu hidup sendiri. Bantuan kurcaci lain sangat berharga pada saat ia sedang sakit.
***


3 Apr 2017

Meru Semut Merah

Dimuat di Majalah Bobo edisi 47, 2 Maret 2017


Meru Semut Merah
Oleh: Agnes Dessyana

            “Meru, ikut kami mengumpulkan makanan,” ajak Emu, sahabatnya.
            “Malas ah. Aku ngantuk.”
            Emu menggelengkan kepalanya dan pergi meninggalkan Meru. Meru adalah seekor semut merah yang terkenal sangat malas. Ketika teman-temannya mencari gula atau makanan manis lainnya, Meru hanya tidur. Tetapi, ketika teman-temanya datang membawa makanan, Meru selalu makan paling banyak.
            Berkali-kali Meru telah ditegur oleh Ratu Semut Merah dan Emu.Tetapi Meru tetap tidak mau ikut mencari makanan. Para semut merah lain sudah sangat kesal dengan kelakuan Meru, tapi masih mencoba bersabar.
            Suatu ketika, tibalah musim hujan yang berkepanjangan. Kawanan semut merah mulai sulit mencari makanan dan persediaan makanan juga mulai habis.
            “Kita harus berjuang lebih keras untuk mencari makan,” ujar Ratu Semut Merah. “Akan berbahaya jika kita sampai kehabisan makanan.”
            Para semut merah mengangguk setuju dan berjanji untuk bekerja lebih keras. Semua sangat antusias untuk mencari makanan lebih rajin. kecuali Meru, si pemalas. Meru terus saja mengerutu.
            Bekerja keras adalah hal yang sangat tidak menyenangkan bagi Meru.Meru hanya ikut pergi untuk mendapat santapan pertama dari makanan yang didapatkan oleh teman-temannya.
Suatu siang, saat Meru sedang berjalan-jalan di bawah pohon, ia melihat sekelompok semut hitam sedang menyantap kue manis.
Sepertinya enak. Pikir Meru. Aku ingin sekali mencoba kue itu. Tapi, bagaimana caranya.
Di saat itu, Meru melihat seorang manusia lelaki merokok di samping pohon. Ia melihat banyak debu-debu hitam jatuh dari puntung rokok yang dihisapnya. Sebuah ide muncul dalam otak Meru.
Meru perlahan berjalan ke atas debu rokok dan melapisi badannya yang merah. Ia pun berubah menjadi seperti seekor semut hitam.
Meru kemudian mendekati kawanan semut hitam yang sedang menyantap kue manis.
“Hai, boleh aku ikut bergabung?” sapa Meru.
Para semut hitam itu saling berpadangan. Mereka mendekatkan diri pada Meru dan menggosok-gossokkan sungut mereka. Tanda perkenalan pada semut baru.
Kawanan semut hitam itu memperbolehkan Meru ikut makan. Meru makan dengan lahap.Setelah selesai makan, ia pergi meninggalkan kawanan semut hitam. Ia kembali ke liang rumahnya dan tidur.
Keesokan harinya, hal yang sama dilakukan Meru. Ia menyamar untuk mengelabui kawanan semut hitam. Beberapa kali, Meru melakukan hal itu demi mendapat makanan gratis.
Meru sangat senang. Ia bisa tetap bersantai dan mendapat makanan enak. Namun, kejadian itu tidak berlangsung lama. Pada suatu siang saat ia menyamar, nasib sial mendatanginya.
Saat sedang menikmati makanan, setetes embun menyiram badan Meru. Debu yang melapisi tubuhnya luntur dan badannya berubah merah.
“Kamu bukan kawanan kami!” seru salah satu semut hitam.
Semut hitam yang lain juga marah. “Kamu telah menipu kami.”
Kawanan semut hitam itu marah dan melaporkan Meru pada Ratu Semut Merah.
Ratu Semut Merah marah. “Meru, kamu sangat tidak setia. Saat teman-temanmu bersusah payah mencari makan, kamu malahmenipu semut hitam.”
Meru hanya menunduk. Ia akhirnya diusir dari kawanan semut merah.
Sejak saat itu, Meru hidup sendirian.Tidak ada yang mau menemani semut merah yang pemalas. Ia sekarang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan makanannya. Ia mencari makan sendirian dan tidur sendirian.
Meru yang dulu malas sekarang berubah menjadi semut yang rajin dan giat bekerja. Ia sekarang tahu pentingnya bekerja keras demi mendapatkan makanan. Satu hal yang kurang adalah Meru merasa sangat kesepian. Meru rindu dengan teman-temannya, terutama Emu, sahabatnya. Tapi, ia tidak berani untuk kembali ke liang lamanya.
Mereka terlihat sangat gembira bersama. Aku menyesal telah bersikap jahat pada mereka. Pikir Meru dengan sedih sambil menatap Emu yang sedang mengangkut nektar bersama dengan beberapa semut merah lain.
Kebetulan Emu melihat tatapan Meru. Emu pun menjadi iba pada sahabatnya. Emu pun mendekati Meru.
“Meru, bagaimana kabarmu?”
“Aku baik,” jawab Meru singkat.
Meru baru akan pergi meninggalkan Emu ketika Emu menahannya.
“Kamu mau ikut bergabung lagi dengan kami?”
Meru menatap Emu. “Apakah bisa?”
Emu menatap teman-teman semut merah lain. Awalnya, mereka enggan tapi akhirnya setuju karena merasa kasihan dengan Meru. Kawanan semut merah itu kemudian meminta persetujuan dari Ratu Semut Merah.
“Baiklah, Meru boleh kembali ke liang ini,” ujar Ratu Semut Merah. “Tapi, ia harus berjanji untuk tidak malas lagi.”
Meru mengangguk. Ia merasa bahagia ketika diterima oleh teman-temannya. Ia tidak lagi hidup sendirian. Ia kini bekerja dengan rajin bersama teman-temannya. Meru, si pemalas telah berubah. Dalam hatinya, ia berjanji untuk tidak pernah malas lagi.



27 Mar 2017

Ramuan Istrimewa Grotto

Dimuat di Majalah Bobo no 47, 2 Maret 2017


Ramuan Istimewa Grotto
Melia Sastia

Hoek. Hoek. Hoek.
Terdengar suara dari kamar Grotto. Anak laki-laki yatim piatu itu merasakan mual dan mulas di perutnya. Kakek bergegas menuju kamar Grotto. Digosoknya perut dan punggung cucu kesayangannya itu dengan minyak angin.
“Bagaimana? Terasa lebih baik?” tanya Kakek. Grotto mengangguk pelan
“Aku mau izin tidak sekolah lagi ya, Kek..” pinta Grotto sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok
“Kamu sudah dua hari tidak sekolah, Grotto. Lagi pula sebentar lagi ujian. Bagaimana kalau sampai tidak naik ke kelas 4?” tanya Kakek.
“Biar saja, Kek. Aku lebih suka di rumah,” kata Grotto lagi.
“Kakek akan buatkan sesuatu untukmu. Tunggu ya..” kata Kakek seraya berjalan menuju dapur. Tak lama kemudian Kakek kembali dengan membawa segelas air putih.
“Apa itu, Kek?” tanya Grotto.
“Ini ramuan penyemangat, Grotto. Siapapun yang meminumnya, ia akan menjadi sehat dan bersemangat. Ayo minumlah,” kata Kakek. Grotto mengambil gelas itu dari tangan kakeknya.
Glek. Grotto tidak merasakan apa-apa.
Glek. Glek. Glek. Seketika Grotto merasa tubuhnya begitu segar. Mulas dan mual tidak lagi dirasakannya. Ia segera bangkit dari tempat tidur.
“Kakek memang tabib hebat! Aku jadi merasa sehat. Aku mau sekolah, Kek..” kata Grotto kemudian. Kakek tersenyum melihat tingkah Grotto.
Di sekolah, Grotto merasa sangat bersemangat. Tidak seperti sebelumnya, ia dengan mudah mampu memahami semua penjelasan gurunya. Bahkan saat pelajaran berhitung, Grotto mampu menjawab semua soal yang diberikan. Grotto biasanya selalu kena omel, tapi kali ini gurunya berulang kali memujinya. Ah, bukan main bangganya Grotto.
Pulang sekolah, Grotto bertemu dengan Lionel, anak paling bandel di sekolah.
“Berikan uangmu!” bentak Lionel seraya mencengkeram kerah baju Grotto. Karena ketakutan, Grotto memberikan uangnya begitu saja pada Lionel.
“Besok lagi ya. Hahaha..” kata Lionel seraya meninggalkan Grotto yang hampir menangis.
Grotto berlari pulang. Ia menceritakan apa yang dialaminya pada kakeknya.
“Pokoknya aku besok tidak mau sekolah,” kata Grotto sambil terisak.
“Kalau kamu tidak sekolah, apakah Lionel akan berhenti mengganggumu?” tanya Kakek. Grotto diam. “Lalu, kalau nilaimu jelek karena sering tidak masuk sekolah, apakah Lionel bisa membantumu?” Lagi-lagi Grotto diam. “Lagi pula, Kakek juga sudah mengajarimu bela diri, bukan?”
“Tapi aku selalu takut saat berhadapan dengan Lionel, Kek..” keluh Grotto.
“Kalau begitu, besok pagi sebelum berangkat sekolah kamu harus minum ramuan pemberani buatan Kakek.”
“Supaya apa, Kek?”
“Tentu saja supaya kamu menjadi berani..”
***
Keesokan pagi sebelum sekolah, Grotto meminum ramuan pemberani buatan Kakeknya. Dengan penuh percaya diri Grotto melangkah menuju sekolah.
Dalam perjalanan, Grotto melihat Lionel sedang diganggu oleh seorang pemuda. Ia tampak memukul dan membentak Lionel. Grotto tidak suka pada Lionel karena kerap mengganggunya dan teman-temannya. Tapi Grotto merasa kasihan pada Lionel. Lagi pula bukankah tadi pagi ia sudah meminum ramuan pemberani?
Grotto mendekati pemuda itu. Dengan lantang ia memintanya untuk menjauhi Lionel. Pemuda itu marah, lalu mengayunkan tangannya hendak memukul Grotto. Dengan gesit Grotto menangkap tangan pemuda itu lalu menghempaskan tubuhnya ke tanah. Pemuda itu meringis menahan sakit lalu kabur meninggalkan Lionel dan Grotto.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Grotto. Lionel mengangguk.
“Terima kasih sudah menolongku,” kata Lionel. “Pemuda itu kerap meminta uangku dengan paksa, makanya aku selalu kehabisan uang. Ia bahkan tak segan-segan memukul. Itu sebabnya aku sering meminta uang pada teman-teman di sekolah,” jelas Lionel dengan kepala tertunduk. “Aku minta maaf ya, Grotto..” lanjut Lionel.
“Tidak apa. Aku sudah memaafkanmu. Sekarang ayo kita cepat-cepat ke sekolah sebelum terlambat,” kata Grotto.
“Ayo! Tapi ngomong-ngomong, aku baru tau kalau kau bisa bela diri..” sahut Lionel. Grotto nyengir.
***
Sepulang sekolah, Grotto menceritakan semua yang dialaminya hari itu pada Kakeknya.
“Aku jadi penasaran, apa sebenarnya isi ramuan istimewa yang Kakek berikan padaku. Apakah Kakek mau memberitahuku?” tanya Grotto.
“Tentu saja, Grotto. Ayo ikut Kakek..”
Grotto berjalan ke dapur mengikuti kakeknya. Ia melihat Kakek menuang air putih dari teko ke dalam sebuah gelas kaca.
“Ramuan penyemangat dan ramuan pemberani itu sebenarnya hanya air putih biasa. Bukan ramuannya yang istimewa, tapi kamulah yang istimewa, Grotto..” kata Kakek. Grotto tertegun.
Ia memang selalu merasa mulas dan mual tiap pagi karena takut menghadapi pelajaran di sekolah. Tubuhnya juga lemas tiap berhadapan dengan siapa pun yang ditakutinya. Tapi ketika ia merasa bersemangat, semua pelajaran dengan mudah bisa dipahaminya. Begitu pula saat ia menghadapi orang yang ditakutinya. Ah, Grotto baru sadar. Ternyata ramuan istimewa itu ada dalam pikirannya sendiri.



22 Mar 2017

Tuan Tome dan Nyonya Petra

                                   
Dimuat di Majalah Bobo Edisi Februari 2017



                                          Tuan Tome dan Nyonya Petra
                                                       Oleh : Afrilla Dwitasari
        Di kota Triberg di Jerman, tinggalah sepasang suami istri. Tuan Tome dan Nyonya Petra namanya. Mereka memiliki toko kue "Liebekuchen" yang menjual kue khas Triberg, yaitu black forest. Toko "Liebekuchen" selalu ramai oleh pengunjung yang berjalan-jalan ke air terjun terkenal di Triberg. Namun akhir-akhir ini, toko itu sepi.
        Suatu pagi, Nyonya Petra merenung. Ia melepaskan topi dan celemeknya, mengempaskan badannya yang gemuk di bangku kayu.
      "Kenapa kau melamun, Petra?" tegur Tuan Tome.
      "Toko kita sepi, sekarang toko kue baru menjamur di sekitar air terjun. Apa yang harus kita lakukan, Tome?"
      "Hmm.. Apa, ya?" Tuan Tome menggaruk-garuk kepalanya.
       Nyonya Petra memang tidak bisa mengandalkan suaminya yang tidak suka bekerja.´Berbeda sekali dengan dirinya. Ia tekun, giat, dan juga ramah kepada pelanggannya.
      Tuan Tome tidak betah membuat kue. Ia sering tertidur saat mengaduk adonan dengan kayu.
       "Tome, bagaimana kalau kau mencari kursus membuat kue? Cobalah belajar membuat kue terbaru! Sudah saatnya kita menambah jenis kue. Kalau kue kita bervariasi, pelanggan akan bertambah!" pinta Nyonya Petra.
      "Dimana?"
      "Carilah di kota! Ada di cafe besar!"
      Dengan memakai sepatu boot kulit dan jaket hitam andalannya, Tuan Tome memenuhi permintaan istrinya. Ia pun menemukan satu cafe besar.
       Ketika masuk ke cafe, ia melihat sebuah tulisan "Kein Meister faellt vom Himmel" (Tidak ada ahli yang jatuh dari langit). Apa maksudnya tulisan itu, gumam Tuan Tome dalam hati.
      "Selamat pagi! Saya Tome. Saya ingin mendaftar kursus!"
       Pemilik cafe memandangi Tuan Tome dari kepala hingga ujung kaki. Tuan Tome memang kurus tinggi.
      "Baiklah, silakan datang besok, " ujar pemilik cafe.
      Setelah membayar biayanya, ia kembali ke rumah dan bercerita kepada istrinya.
      "Baguslah! Belajarlah yang benar, Tome!" pesan Nyonya Petra.
       Esoknya, Tuan Tome masuk kelas.
      "Selamat pagi! Hari ini kita akan membuat bolu kismis. Sekarang perhatikan petunjuk saya dan ikuti langkah-langkahnya!" Sang koki guru berkata lantang.
        Semua peserta mengikuti perintahnya.
      "Uh, susah sekali! Ah, ini membosankan!" Tuan Tome menggerutu terus.
       Ketika kelas selesai, koki guru memeriksa kue-kue peserta. Tuan Tome gagal. Tapi, koki guru tidak marah kepadanya.
      "Tidak apa, datanglah lagi besok. Kan masih ada lima kali pertemuan."
      "Apa?! Lama sekali!" Tuan Tome melotot.
      "Memang begitu, Tuan. Membuat kue butuh latihan!"
       Tuan Tome menjatuhkan topi dan celemeknya lalu pulang.
      "Aku tidak mau belajar selama itu! Kupikir sehari saja bisa!" gerutunya ketika sampai di rumah.
      "Astaga! Kau memang tidak sabar!"
        Nyonya Petra geleng-geleng kepala. Ia sudah paham sifat suaminya, malas bekerja tapi ingin cepat dapat hasil.
       "Hei, Petra, bagaimana kalau aku belajar melukis? Lukisanku bisa kujual nantinya!" Tiba-tiba malamnya Tuan Tome menyampaikan ide baru.
       "Terserah kau!" Nyonya Petra malas berdebat.
       Esoknya, Tuan Tome mendapatkan tempat belajar melukis. Ia boleh mulai hari itu juga. Tuan Tome heran saat melihat papan bertuliskan "Kein Meister faellt vom Himmel". Kenapa ada tulisan serupa di sini, gumamnya.
        Saat belajar, Tuan Tome merasa jenuh. Melukis memang bukan minatnya.
       "Berapa lama saya bisa seperti Anda?" keluhnya.
      "Satu tahun. Melukis butuh latihan keras. Tidak ada yang instan, " ujar sang guru lukis.
       Mata Tuan Tome membelalak.
       "Apa?? Satu tahun?! Saya tidak jadi melukis!"
       Kali ini Nyonya Petra marah. Wajahnya merah padam mendengar cerita suaminya.
       "Kau sudah menghabiskan biaya tapi tanpa hasil! Kali ini aku beri satu kesempatan terakhir!"
         Tuan Tome berpikir keras. Akhirnya, ia memutuskan untuk belajar membuat minuman. Ia memang senang meramu berbagai minuman. Ah, mungkin memang lebih enak kalau aku suka melakukannya.
        Tuan Tome kembali mencari tempat kursus membuat minuman. Kebetulan kemarin ia melihat pada brosur di salah satu cafe.
        Ia mendatangi cafe tersebut. Alangkah terkejutnya ia karena di sana pun ada tulisan "Kein Meister faellt vom Himmel" di tembok.
        Saat mendaftar, pemilik cafe berkata, "Baik Tuan, besok kelas dimulai. Kita akan membuat minuman tradisional eggnog dan lumumba. Anda harus serius belajar di sini. Jika Anda tidak mengikuti lima kali pertemuan, maka Anda harus membayar denda!"
        Tuan Tome terpaksa mengikuti peraturan. Hari pertama ia mengeluh dan mengomel saat menemui kesulitan. Namun, ia tetap mengikuti kelas hingga selesai.
        Suatu malam Nyonya Petra melihat suaminya membaca buku resep dengan serius. Semoga saja kali ini ia berubah! Doanya dalam hati.
        Benar saja, Tuan Tome terus mengikuti kelas. Di akhir pertemuan, pemilik cafe memberikan sertifikat kelulusan. Tuan Tome girang bukan main. Ia berhasil membuat minuman tradisional. Tak sabar ia menghias tokonya dengan eggnog dan lumumba. Petra pasti gembira!
        Ternyata semua bisa jika dijalani dengan tekun dan sungguh-sungguh. Tuan Tome sadar, selama ini ia tidak mau menjalani proses belajar.
        Saat keluar ruangan, ia kembali melihat tulisan di tembok. Matanya mengerling, senyumnya merekah. Tak ada yang bisa jadi ahli tanpa belajar terlebih dahulu. Aha! Jadi itu maksudnya!
***

20 Mar 2017

Titipan Nyonya Salma

Dimuat di Majalah Bobo 


Titipan Nyonya Salma
Gita Lovusa

            Liburan musim panas kali ini, Nyonya Winnie kedatangan adiknya yang akan menginap di rumah. Bibi Steffie, begitu Nyonya Winnie dan anak-anak biasa memanggilnya. Nyonya Winnie senang jika Bibi Steffie menginap di rumah. Mereka memiliki beberapa kesamaan, seperti sama-sama suka pergi ke pasar dan memasak.
            Pagi hari, Nyonya Winnie sedang bersiap belanja ke pasar. Ia sudah menuliskan daftar bahan yang akan dibeli. Bibi Steffie pun siap menemani. Lalu bel rumah berbunyi.
            “Ah, itu pasti Nyonya Salma.” Nyonya Winnie bergegas membukakan pintu.
            “Selamat pagi, Nyonya Winnie.” Nyonya Salma memberi salam pada Nyonya Winnie. “Seperti biasa, ini daftar titipanku.”
            “Baik, Nyonya Winnie. Akan kucarikan.” Nyonya Salma pun pamit pulang. Nyonya Winnie dan adiknya berangkat ke pasar.
            Sesampainya di tempat yang menjual beragam lauk, buah, dan sayur itu, Nyonya Winnie tekun mencari bahan yang diperlukan sesuai daftar belanjaan miliknya dan milik Nyonya Salma. Setelah semua bahan didapatkan, Nyonya Winnie mengajak Bibi Steffie pulang.
“Kubantu bawakan tas belanja.” Bibi Steffie merasa iba pada Nyonya Winnie yang membawa tiga tas belanja.
“Terima kasih. Tolong bawakan tas belanjaku saja, Bi.” Nyonya Winnie pun
memberikan satu tas belanja miliknya.
“Lalu dua tas ini punya siapa?”
“Oh, ini punya Nyonya Salma. Yang tadi pagi datang ke rumah.”
Bibi Steffie terperangah mendengar perkataan Nyonya Winnie. “Ia menitip sebanyak
ini?”
Nyonya Winnie mengangguk. “Iya, Nyonya Salma biasa menitip belanja seperti ini
setiap aku ke pasar dua hari sekali. Ia tak suka ke pasar, tapi harus memasak untuk kelima putranya.”
            “Ya ampun, kau terlalu baik. Yang ia beli bahkan lebih banyak daripada belanjaanmu.”
            Nyonya Winnie tertawa kecil. “Tidak apa-apa. Aku suka melakukannya, kok.”
            Kening Bibi Steffie berkerut. Ia kenal sekali dengan kakak kesayangannya itu, sangat suka membantu. Tapi, ada yang tak bisa dibiarkan di sini, pikir Bibi Steffie.
            “Oh iya, bisakah dua hari lagi menggantikanku belanja ke pasar? Aku harus mengambil kain-kain di kota.”
            “Dengan senang hati.”
            “Terima kasih. Nanti kutuliskan daftar belanjaannya,” ujar Nyonya Winnie lega.
            Ah, pas sekali. Bibi Steffie berkata dalam hati. Sebuah ide pun langsung muncul di benaknya.
            Dua hari kemudian, pagi-pagi sekali, Nyonya Winnie sudah siap untuk pergi ke kota. “Ini daftar belanjaanku. Nanti kalau Nyonya Salma datang, bisakah tolong membelikan titipannya?”
            “Akan kusahakan yang terbaik.”
            Ting tong. Dengan sigap Bibi Steffie membukakan pintu.
            “Selamat pagi,” sapa Nyonya Salma ramah. “Apa Nyonya Winnie ada?”
            “Maaf, Nyonya Salma. Nyonya Winnie sedang mengambil kain ke kota.”
            “Oh.” Nyonya Salma terkejut. “Lalu daftar belanja ini bagaimana, ya?”
            “Kau bisa ikut belanja bersamaku kalau mau.”
            Nyonya Salma tampak kikuk. “Oh, baiklah kalau begitu. Aku butuh sekali bahan-bahan ini.”
            “Mari pergi bersamaku.” Bibi Steffie membawa tiga tas belanja di tangan.
            Sesampainya di pasar. Nyonya Salma sama sekali tidak tahu harus pergi ke arah mana untuk membeli bahan yang dibutuhkan.
“Kau baca daftar belanjaanmu, lalu lihatlah papan-papan ini. Di situ tertulis nama bahan-bahan yang dijual. Sayur, ikan, ayam, buah-buahan, atau bumbu dapur.” Bibi Steffie membiarkan Nyonya Salma mencari sendiri. Ia hanya mendampinginya dan membeli sesuai dengan yang tertera di daftar belanja Nyonya Winnie.
            Setelah semua bahan didapatkan, hasilnya seperti belanja sebelumnya; dua tas belanja milik Nyonya Salma dan satu tas kepunyaan Nyonya Winnie.
“Belanjaanku banyak sekali,” ujar Nyonya Salma sambil menyeka keringat di dahi. “Berat.”
            “Ya, begitulah yang Nyonya Winnie lakukan setiap kau menitip padanya. Ia membawa tiga tas belanja ini seorang diri.”
            “Ow, kasihannya. Aku harus membantunya kalau begitu.”
            Begitu sampai di pertigaan dekat rumah Nyonya Salma dan Nyonya Winnie, Bibi Steffie dan Nyonya Salma pun berpisah. “Terima kasih sudah menemani belanja, Bi. Aku banyak belajar hari ini.”
            “Sama-sama.” Bibi Steffie mengangguk pelan.
            Dua hari kemudian, saat Bibi Steffie dan Nyonya Winnie bersiap kembali pergi ke pasar. Bel rumah berdentang.
“Ah, itu pasti Nyonya Salma yang mau ke pasar bersama kita,” sahut Bibi Steffie.
            “Hah? Bagaimana bisa?”
            “Coba kau buka saja.”
            “Selamat pagi, Nyonya Winnie.” Nyonya Salma tersenyum manis sekali. “Untunglah kau di rumah hari ini.”
            Nyonya Salma memegang kertas dengan kedua tangannya. “Bolehkah aku menitip belanja lagi? Aku tahu belanjaanku banyak dan kau berat membawanya. Oleh karena itu, aku membeli tas belanja beroda ini untukmu. Agar kau lebih ringan membawa belanjaan.”          
            “Wah, terima kasih sekali, Nyonya Salma. Tentu saja kau boleh menitip padaku.”
            Bibi Steffie membelalakkan mata. “Oh, ya ampun. Harapanku terbang melayang. Kau sungguh terlalu baik, Nyonya Winnie.”
Nyonya Winnie tersenyum. “Itu karena Nyonya Salma sangat baik padaku, Bibi Steffie. Jika sedang banyak jahitan, aku suka menitipi anak-anak di rumah Nyonya Salma. Usia anak-anak kami sepantaran, juga cukup akrab.” Nyonya Winnie menjelaskan
Oh.. oh.. kini Bibi Steffie mengerti.