4 Nov 2017

Kerucut Bibi Karen

Dimuat di majalah Bobo


KERUCUT BIBI KAREN
Oleh: Ruri Ummu Zayyan

Putri Amelia sedang bersedih.Bibi Karen, pengasuh yang sangat disayanginya baru saja meninggal. Saat sakit parah, dengan terbata-bata, Bibi Karen hanya mengucapkan, “kerucut..., perdamaian..., kamu dan Adrian pasti bisa” sambil memberikan sebuah kerucut dari kertas.
Putri Amelia dan Bibi Karen berencana akan menghias kerucut itu untuk topi karnaval musim panas. Tapi Bibi Karen keburu meninggal.
“Mungkin Bibi Karen ingin kau menyelesaikan hiasan topi itu,” kata Pangeran Adrian, kakak Putri Amelia.
Lalu apa maksud Bibi Karen dengan kata perdamaian? Putri Amelia bertanya-tanya.
“Kak, apa kerucut bisa membawa perdamaian?” tanya Putri Amelia pada Pangeran Adrian.
“Hmm.. Mungkin kau bisa menghiasnya dengan kata “perdamaian”. Kau ajak teman-temanmu juga. Sambil berdoa semoga perang segera berakhir. Tuhan suka mengabulkan doa anak-anak,” jawaban Pangeran Adrian membuat mata Amelia berbinar.

28 Okt 2017

Kue Pelangi

Dimuat di Majalah Bobo

KUE PELANGI LILA
Lotta
          “Ini warna apa, Dito?” tanyaku menunjukkan warna biru pada Dito, adikku. Tapi Dito menggeleng, tidak tahu.
“Aduuuh, kamu itu kok diajari susah benar, sih? Ini itu warna biru. Bi… ru!” kataku  mengeja.
“Bi… ru!”
“Itu kan kata Kakak!” ujarku kesal.
Dito sudah kelas satu SD. Tapi Dito belum mengenal warna. Dan kejadian itu pernah membuatku malu.
Saat itu, aku mengajak Dito untuk mengerjakan tugas membuat peta di rumah Lila, sahabatku. Dan Lila meminta tolong pada Dito yang bermain di dekat kami, untuk mengambilkan spidol warna hijau. Tapi Dito malah salah mengambil warna. Ia mengambil warna biru. Aku pun jadi malu. Apalagi Lila tertawa geli karena kesalahan Dito. 

17 Okt 2017

Putri Fidelya

Dimuat di Majalah Bobo


PUTRI FIDELYA
Oleh: Ruri Ummu Zayyan

Putri Fidelya tinggal di kerajaan Vivero yang subur dan makmur. Raja Bastian, ayah Fidelya adalah seorang raja yang sangat adil, bijaksana dan dicintai seluruh rakyatnya.
Namun, Fidelya merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Ia tidak seperti putri-putri raja dalam dongeng yang sering ia dengar. Paling cantik dan paling segalanya.
Fidelya tampak biasa saja. Wajahnya tidak secantik Melissa, putri perdana menteri. Rambutnya cokelat dan lurus, tidak seindah rambut Clara, putri kepala koki kerajaan, yang pirang bergelombang. Kulitnya pun tidak secerah dan sehalus Rania, putri panglima perang.
Belum lagi kalau melihat kemampuannya di sekolah istana Vivero. Di kelas membaca dan menulis, Fidelya tidak sepintar George, putra kepala pengawal kerajaan. Lalu di kelas berkebun, Edward adalah yang paling ahli, sebab ia memang putra dari menteri pertanian. Di kelas memasak, tentu saja Clara jagonya.
Fidelya merasa tidak ada yang bisa dibanggakan dari dirinya sebagai putri pewaris tahta kerajaan. Hari ini ia sangat gelisah. Sebab lusa, istana Vivero akan kedatangan tamu dari kerajaan Genovia. Fidelya takut kerajaan lain akan mengetahui kalau putri kerajaan Vivero sama sekali tidak bisa dibanggakan.

14 Okt 2017

Rahasia Nyonya Ellena

Dimuat di Majalah Bobo

Rahasia Nyonya Ellena
Oleh : Bonita Irfanti

Nona Lupita belum lama pindah ke kota Wina. Ia diterima bekerja sebagai manajer di sebuah supermarket di kota itu. Jabatan ini sangat sesuai dengan Nona Lupita yang cerdas dan tegas.
Setiap pagi, Nona Lupita berjalan-jalan keliling komplek. Pepohonan di sisi-sisi jalan selalu membuat udara sangat sejuk. Apalagi rumah paling ujung. Satu-satunya rumah dengan pohon terbanyak.
Nenek Mila, tetangga Nona Lupita, pernah cerita, pemilik rumah itu bernama Nyonya Ellena. Suaminya sudah meninggal, dan anaknya-anaknya kuliah di luar kota. Sayangnya, ia jarang bergaul dengan tetangganya.
Nyonya Bianca, tetangga Nona Lupita yang lain juga menambahkan. Katanya tiap hari Minggu, mobil Nyonya Ellena pasti bolak-balik terus, dan membuat pusing orang yang melihat.
Jika jalan-jalan pagi, Nona Lupita suka berhenti di depan rumah Nyonya Ellena. Sekadar menghirup udara segar, atau menikmati kicau burung diantara rindangnya pohon palem dan akasia.

27 Sep 2017

Toko Kue Nyonya Gunpanti

Dimuat di Majalah Bobo

Toko Kue Nyonya Gunpanti

Oleh : Liza Erfiana

Di meja kasir, Nyonya Gunpanti berkali-kali menghitung keuntungan yang bakal dia peroleh, kalau mengerjakan pesanan kue dari Nyonya Sesilia. Dengan dinaikan dua kali lipat, Nyonya Sesilia tetap tidak keberatan. Berarti keuntungan yang akan didapatkan Nyonya Gunpanti semakin besar.
“Waw! Aku harus terima itu!” ucapnya berbinar.
Keesokan hari, Nyonya Sesilia kembali datang untuk membicarakan pesanannya kemarin. Dengan senang hati, Nyonya Gupanti menerima tawaran itu. Apalagi uang muka yang diberikan Nyonya Sesilia lebih dari separuh biaya kue seluruhnya.
Nyonya Sesilia memesan dua ratus loyang kue setiap hari, selama tiga hari berturut-turut. Sebagai bangsawan di Kota Pelangi, seperti ada keharusan baginya untuk merayakan Hari Kue dengan meriah. Nyonya Sesilia mengundang anak-anak dan orang kurang mampu untuk berpesta bersama.

21 Sep 2017

Kisah si Pongo

Dimuat di halaman Kompas Anak harian Kompas Minggu, 24 januari 2016 

Kisah si Pongo
Oleh : Vina Maria. A

Pongo adalah anak Orangutan Sumatera, usianya baru lima tahun. Setahun lagi Pongo sudah  bisa mandiri. Sekarang Pongo masih tinggal bersama induknya.
Hoa-hem,” Pongo menguap sambil meregangkan tangannya. Enak sekali rasanya bangun tidur setelah lelah bermain. Lho, Ibu belum pulang dari mencari makanan? Seharusnya tadi aku ikut dengan Ibu untuk belajar mencari makan. Gara-gara terlalu asyik bermain, aku malah tidur.
Tak beberapa lama, Ibu Pongo datang. “Halo, Pongo. Ini Ibu membawa pisang. Pongo pasti sudah lapar.”
Pongo mengangguk. Tapi kenapa Ibu lama mencari makanannya?” tanya Pongo sambil mulutnya penuh dengan  pisang.
“Oh, karena Ibu harus berjalan agak jauh dari biasanya,” jawab Ibu Pongo.

15 Sep 2017

Si Hitam di Tengah Malam

Dimuat di Majalah Bobo


Si Hitam di Tengah Malam
Oleh : Bonita Irfanti

Malam tiba. Angin dingin berembus. Di dalam sarangnya, Geri si Burung Gereja merapatkan tubuh kecilnya pada sang ibu. Di sampingnya, ada Gepi, saudaranya yang sudah tertidur lelap.
“Hoaahem,” Geri menguap. “Bu, aku tidur dulu, ya?”
“Tidur yang nyenyak, Nak.” Ibu mengecup kepala Geri. Tak lama, terdengar suara dengkuran Geri. Ibu Geri juga menyusul tidur setelah membetulkan selimut Geri dan Gepi.
Kresekk! Kresekk! Weerrrr!
Geri terbangun mendengar suara gemerisik daun-daun dan kepakan sayap. Ia melongok keluar. Gelap. Hanya ada temaram lampu rumah Pak Pendi di kejauhan. Jaraknya sekitar tiga ratus meter dari rumah kosong tempat sarang Geri berada.
 

Rumah Kurcaci Pos Template by Ipietoon Cute Blog Design