22 Mar 2017

Tuan Tome dan Nyonya Petra

                                   
Dimuat di Majalah Bobo Edisi Februari 2017



                                          Tuan Tome dan Nyonya Petra
                                                       Oleh : Afrilla Dwitasari
        Di kota Triberg di Jerman, tinggalah sepasang suami istri. Tuan Tome dan Nyonya Petra namanya. Mereka memiliki toko kue "Liebekuchen" yang menjual kue khas Triberg, yaitu black forest. Toko "Liebekuchen" selalu ramai oleh pengunjung yang berjalan-jalan ke air terjun terkenal di Triberg. Namun akhir-akhir ini, toko itu sepi.
        Suatu pagi, Nyonya Petra merenung. Ia melepaskan topi dan celemeknya, mengempaskan badannya yang gemuk di bangku kayu.
      "Kenapa kau melamun, Petra?" tegur Tuan Tome.
      "Toko kita sepi, sekarang toko kue baru menjamur di sekitar air terjun. Apa yang harus kita lakukan, Tome?"
      "Hmm.. Apa, ya?" Tuan Tome menggaruk-garuk kepalanya.
       Nyonya Petra memang tidak bisa mengandalkan suaminya yang tidak suka bekerja.´Berbeda sekali dengan dirinya. Ia tekun, giat, dan juga ramah kepada pelanggannya.
      Tuan Tome tidak betah membuat kue. Ia sering tertidur saat mengaduk adonan dengan kayu.
       "Tome, bagaimana kalau kau mencari kursus membuat kue? Cobalah belajar membuat kue terbaru! Sudah saatnya kita menambah jenis kue. Kalau kue kita bervariasi, pelanggan akan bertambah!" pinta Nyonya Petra.
      "Dimana?"
      "Carilah di kota! Ada di cafe besar!"
      Dengan memakai sepatu boot kulit dan jaket hitam andalannya, Tuan Tome memenuhi permintaan istrinya. Ia pun menemukan satu cafe besar.
       Ketika masuk ke cafe, ia melihat sebuah tulisan "Kein Meister faellt vom Himmel" (Tidak ada ahli yang jatuh dari langit). Apa maksudnya tulisan itu, gumam Tuan Tome dalam hati.
      "Selamat pagi! Saya Tome. Saya ingin mendaftar kursus!"
       Pemilik cafe memandangi Tuan Tome dari kepala hingga ujung kaki. Tuan Tome memang kurus tinggi.
      "Baiklah, silakan datang besok, " ujar pemilik cafe.
      Setelah membayar biayanya, ia kembali ke rumah dan bercerita kepada istrinya.
      "Baguslah! Belajarlah yang benar, Tome!" pesan Nyonya Petra.
       Esoknya, Tuan Tome masuk kelas.
      "Selamat pagi! Hari ini kita akan membuat bolu kismis. Sekarang perhatikan petunjuk saya dan ikuti langkah-langkahnya!" Sang koki guru berkata lantang.
        Semua peserta mengikuti perintahnya.
      "Uh, susah sekali! Ah, ini membosankan!" Tuan Tome menggerutu terus.
       Ketika kelas selesai, koki guru memeriksa kue-kue peserta. Tuan Tome gagal. Tapi, koki guru tidak marah kepadanya.
      "Tidak apa, datanglah lagi besok. Kan masih ada lima kali pertemuan."
      "Apa?! Lama sekali!" Tuan Tome melotot.
      "Memang begitu, Tuan. Membuat kue butuh latihan!"
       Tuan Tome menjatuhkan topi dan celemeknya lalu pulang.
      "Aku tidak mau belajar selama itu! Kupikir sehari saja bisa!" gerutunya ketika sampai di rumah.
      "Astaga! Kau memang tidak sabar!"
        Nyonya Petra geleng-geleng kepala. Ia sudah paham sifat suaminya, malas bekerja tapi ingin cepat dapat hasil.
       "Hei, Petra, bagaimana kalau aku belajar melukis? Lukisanku bisa kujual nantinya!" Tiba-tiba malamnya Tuan Tome menyampaikan ide baru.
       "Terserah kau!" Nyonya Petra malas berdebat.
       Esoknya, Tuan Tome mendapatkan tempat belajar melukis. Ia boleh mulai hari itu juga. Tuan Tome heran saat melihat papan bertuliskan "Kein Meister faellt vom Himmel". Kenapa ada tulisan serupa di sini, gumamnya.
        Saat belajar, Tuan Tome merasa jenuh. Melukis memang bukan minatnya.
       "Berapa lama saya bisa seperti Anda?" keluhnya.
      "Satu tahun. Melukis butuh latihan keras. Tidak ada yang instan, " ujar sang guru lukis.
       Mata Tuan Tome membelalak.
       "Apa?? Satu tahun?! Saya tidak jadi melukis!"
       Kali ini Nyonya Petra marah. Wajahnya merah padam mendengar cerita suaminya.
       "Kau sudah menghabiskan biaya tapi tanpa hasil! Kali ini aku beri satu kesempatan terakhir!"
         Tuan Tome berpikir keras. Akhirnya, ia memutuskan untuk belajar membuat minuman. Ia memang senang meramu berbagai minuman. Ah, mungkin memang lebih enak kalau aku suka melakukannya.
        Tuan Tome kembali mencari tempat kursus membuat minuman. Kebetulan kemarin ia melihat pada brosur di salah satu cafe.
        Ia mendatangi cafe tersebut. Alangkah terkejutnya ia karena di sana pun ada tulisan "Kein Meister faellt vom Himmel" di tembok.
        Saat mendaftar, pemilik cafe berkata, "Baik Tuan, besok kelas dimulai. Kita akan membuat minuman tradisional eggnog dan lumumba. Anda harus serius belajar di sini. Jika Anda tidak mengikuti lima kali pertemuan, maka Anda harus membayar denda!"
        Tuan Tome terpaksa mengikuti peraturan. Hari pertama ia mengeluh dan mengomel saat menemui kesulitan. Namun, ia tetap mengikuti kelas hingga selesai.
        Suatu malam Nyonya Petra melihat suaminya membaca buku resep dengan serius. Semoga saja kali ini ia berubah! Doanya dalam hati.
        Benar saja, Tuan Tome terus mengikuti kelas. Di akhir pertemuan, pemilik cafe memberikan sertifikat kelulusan. Tuan Tome girang bukan main. Ia berhasil membuat minuman tradisional. Tak sabar ia menghias tokonya dengan eggnog dan lumumba. Petra pasti gembira!
        Ternyata semua bisa jika dijalani dengan tekun dan sungguh-sungguh. Tuan Tome sadar, selama ini ia tidak mau menjalani proses belajar.
        Saat keluar ruangan, ia kembali melihat tulisan di tembok. Matanya mengerling, senyumnya merekah. Tak ada yang bisa jadi ahli tanpa belajar terlebih dahulu. Aha! Jadi itu maksudnya!
***

20 Mar 2017

Titipan Nyonya Salma

Dimuat di Majalah Bobo 


Titipan Nyonya Salma
Gita Lovusa

            Liburan musim panas kali ini, Nyonya Winnie kedatangan adiknya yang akan menginap di rumah. Bibi Steffie, begitu Nyonya Winnie dan anak-anak biasa memanggilnya. Nyonya Winnie senang jika Bibi Steffie menginap di rumah. Mereka memiliki beberapa kesamaan, seperti sama-sama suka pergi ke pasar dan memasak.
            Pagi hari, Nyonya Winnie sedang bersiap belanja ke pasar. Ia sudah menuliskan daftar bahan yang akan dibeli. Bibi Steffie pun siap menemani. Lalu bel rumah berbunyi.
            “Ah, itu pasti Nyonya Salma.” Nyonya Winnie bergegas membukakan pintu.
            “Selamat pagi, Nyonya Winnie.” Nyonya Salma memberi salam pada Nyonya Winnie. “Seperti biasa, ini daftar titipanku.”
            “Baik, Nyonya Winnie. Akan kucarikan.” Nyonya Salma pun pamit pulang. Nyonya Winnie dan adiknya berangkat ke pasar.
            Sesampainya di tempat yang menjual beragam lauk, buah, dan sayur itu, Nyonya Winnie tekun mencari bahan yang diperlukan sesuai daftar belanjaan miliknya dan milik Nyonya Salma. Setelah semua bahan didapatkan, Nyonya Winnie mengajak Bibi Steffie pulang.
“Kubantu bawakan tas belanja.” Bibi Steffie merasa iba pada Nyonya Winnie yang membawa tiga tas belanja.
“Terima kasih. Tolong bawakan tas belanjaku saja, Bi.” Nyonya Winnie pun
memberikan satu tas belanja miliknya.
“Lalu dua tas ini punya siapa?”
“Oh, ini punya Nyonya Salma. Yang tadi pagi datang ke rumah.”
Bibi Steffie terperangah mendengar perkataan Nyonya Winnie. “Ia menitip sebanyak
ini?”
Nyonya Winnie mengangguk. “Iya, Nyonya Salma biasa menitip belanja seperti ini
setiap aku ke pasar dua hari sekali. Ia tak suka ke pasar, tapi harus memasak untuk kelima putranya.”
            “Ya ampun, kau terlalu baik. Yang ia beli bahkan lebih banyak daripada belanjaanmu.”
            Nyonya Winnie tertawa kecil. “Tidak apa-apa. Aku suka melakukannya, kok.”
            Kening Bibi Steffie berkerut. Ia kenal sekali dengan kakak kesayangannya itu, sangat suka membantu. Tapi, ada yang tak bisa dibiarkan di sini, pikir Bibi Steffie.
            “Oh iya, bisakah dua hari lagi menggantikanku belanja ke pasar? Aku harus mengambil kain-kain di kota.”
            “Dengan senang hati.”
            “Terima kasih. Nanti kutuliskan daftar belanjaannya,” ujar Nyonya Winnie lega.
            Ah, pas sekali. Bibi Steffie berkata dalam hati. Sebuah ide pun langsung muncul di benaknya.
            Dua hari kemudian, pagi-pagi sekali, Nyonya Winnie sudah siap untuk pergi ke kota. “Ini daftar belanjaanku. Nanti kalau Nyonya Salma datang, bisakah tolong membelikan titipannya?”
            “Akan kusahakan yang terbaik.”
            Ting tong. Dengan sigap Bibi Steffie membukakan pintu.
            “Selamat pagi,” sapa Nyonya Salma ramah. “Apa Nyonya Winnie ada?”
            “Maaf, Nyonya Salma. Nyonya Winnie sedang mengambil kain ke kota.”
            “Oh.” Nyonya Salma terkejut. “Lalu daftar belanja ini bagaimana, ya?”
            “Kau bisa ikut belanja bersamaku kalau mau.”
            Nyonya Salma tampak kikuk. “Oh, baiklah kalau begitu. Aku butuh sekali bahan-bahan ini.”
            “Mari pergi bersamaku.” Bibi Steffie membawa tiga tas belanja di tangan.
            Sesampainya di pasar. Nyonya Salma sama sekali tidak tahu harus pergi ke arah mana untuk membeli bahan yang dibutuhkan.
“Kau baca daftar belanjaanmu, lalu lihatlah papan-papan ini. Di situ tertulis nama bahan-bahan yang dijual. Sayur, ikan, ayam, buah-buahan, atau bumbu dapur.” Bibi Steffie membiarkan Nyonya Salma mencari sendiri. Ia hanya mendampinginya dan membeli sesuai dengan yang tertera di daftar belanja Nyonya Winnie.
            Setelah semua bahan didapatkan, hasilnya seperti belanja sebelumnya; dua tas belanja milik Nyonya Salma dan satu tas kepunyaan Nyonya Winnie.
“Belanjaanku banyak sekali,” ujar Nyonya Salma sambil menyeka keringat di dahi. “Berat.”
            “Ya, begitulah yang Nyonya Winnie lakukan setiap kau menitip padanya. Ia membawa tiga tas belanja ini seorang diri.”
            “Ow, kasihannya. Aku harus membantunya kalau begitu.”
            Begitu sampai di pertigaan dekat rumah Nyonya Salma dan Nyonya Winnie, Bibi Steffie dan Nyonya Salma pun berpisah. “Terima kasih sudah menemani belanja, Bi. Aku banyak belajar hari ini.”
            “Sama-sama.” Bibi Steffie mengangguk pelan.
            Dua hari kemudian, saat Bibi Steffie dan Nyonya Winnie bersiap kembali pergi ke pasar. Bel rumah berdentang.
“Ah, itu pasti Nyonya Salma yang mau ke pasar bersama kita,” sahut Bibi Steffie.
            “Hah? Bagaimana bisa?”
            “Coba kau buka saja.”
            “Selamat pagi, Nyonya Winnie.” Nyonya Salma tersenyum manis sekali. “Untunglah kau di rumah hari ini.”
            Nyonya Salma memegang kertas dengan kedua tangannya. “Bolehkah aku menitip belanja lagi? Aku tahu belanjaanku banyak dan kau berat membawanya. Oleh karena itu, aku membeli tas belanja beroda ini untukmu. Agar kau lebih ringan membawa belanjaan.”          
            “Wah, terima kasih sekali, Nyonya Salma. Tentu saja kau boleh menitip padaku.”
            Bibi Steffie membelalakkan mata. “Oh, ya ampun. Harapanku terbang melayang. Kau sungguh terlalu baik, Nyonya Winnie.”
Nyonya Winnie tersenyum. “Itu karena Nyonya Salma sangat baik padaku, Bibi Steffie. Jika sedang banyak jahitan, aku suka menitipi anak-anak di rumah Nyonya Salma. Usia anak-anak kami sepantaran, juga cukup akrab.” Nyonya Winnie menjelaskan
Oh.. oh.. kini Bibi Steffie mengerti.       

13 Mar 2017

Kotak Ceria

Dimuat di Majalah Bobo


Kotak Ceria
Oleh: Agnes Dessyana

            “Gimana Ran?”
            Rani mengamati kotak yang dipegang Susan. “Kamu yakin Helsa akansenang?”
            “Tentu saja,” ujar Susan.
            “Hhm, baiklah. Kalau kamu bilang begitu,” ucap Rani. “Aku setuju.”
            “Oke, mari kita mulai membuat Kotak Ceria!” seru Susan dengan semangat.
            Rani tertawa geli melihat kelakukan Susan. Mereka kemudian mulai menyusun rencana bersama. Susan dan Rani menggunakan komputer, mulai mencari-cari di internet. Kedua sahabat itu sibuk melihat gambar-gambar berbagai kreasi untuk mengisi kotak ceria.
“Asik ya, melakukan ini,” ucap Rani bersemangat. “Harusnya kita juga mengajak Helsa.”
“Ini kan misi rahasia, Ran!”
Rani menyengir. “Hehehehe….Aku lupa.”
Susan menepuk jidatnya. Keduanya mulai bekerja kembali. Mereka menyusun daftar benda-bendauntuk menghias kotak ceria. Setelah itu selesai, Susan pamit pulang pada Rani.
            Keesokan harinya di sekolah, saat Rani dan Helsa sedang mengobrol di kelas. Susan datang menghampiri mereka.
            “Ran, aku nanti datang agak telat, ya!” kata Susan. “Aku diminta Ibu untuk mengantar pesanan kue.”
            Rani mengangguk. Susan membalas dengan senyum. Setelah itu, Susan berjalan keluar untuk kembali ke ruangan kelasnya. Susan memang berbeda kelas dengan Rani dan Helsa.
            “Kalian ada janji apa?” tanya Helsa penasaran.
            “Tidak ada apa-apa,” jawab Rani singkat.
            Helsa tampak penasaran dengan jawaban Rani, tapi tidak mendesak lebih lanjut.
            Ah, cepatlah pulang sekolah. Aku tidak sabar untuk membuat kotak ceria itu. Pikir Rani dalam hati saat menunggu bel pulang sekolah.
Kring….Bel berbunyi. Rani langsung berlari keluar kelas. Ia bertemu Susan di depan gerbang. Mereka berjalan pulang bersama.
“Rencana kita hari ini adalah menghias kotak ceria,” ucap Susan. “Besok, kita baru mulai mencari isi kotaknya.”
“Baiklah, aku akan siapkan gunting, lem, dan kertas warna. Nanti, kita kerjakan bersama setelah kamu selesai mengantarkan pesanan kue.”
Susan mengangguk. Keduanya lalu berpisah jalan. Setibanya di rumah, Rani segera menyiapkan barang-barang yang diperlukan. Saat Rani asik melihat kreasi gambar di komputer, bel pintu berbunyi. Susan sudah datang dan mereka mulai membuat berbagai macam bentuk dari kertas warna.
Kegiatan itu terus berlanjut selama beberapa hari. Setelah selesai menghias kotak, mereka mulai mencari-cari isi untuk kotak ceria. Rani dan Susan bingung menentukan isi kotak ceria.
“Bagaimana jika ini saja?” Rani menunjuk boneka beruang.”
Susan mendecak kesal. “Rani, boneka itu tidak mungkin muat.”
“Hm, kalau begitu bagaimana dengan gelas ini?”
Dahi Susan berkerut kesal. “Itu jelek!”
Rani mulai ikut kesal karena Susan menolak semua ide yang diberikannya. Padahal Susan juga tidak memberikan ide. Saat mereka masih bertengkar, sebuah suara memanggil mereka.
“Rani, Susan, sedang apa kalian disini?”
Keduanya terkejut dan terdiam.
“Kami mau membeli sesuatu,” jawab Susan singkat.
“Membeli apa?” tanya Helsa.
Rani dan Susan kembali diam. Mereka tidak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba, Helsa bertanya lagi.
“Mau kubantu?”
“Tidak usah!” seru keduanya bersamaan.
“Oh, baiklah. Kalau begitu, aku pulang dulu.”
Rani dan Susan hanya mengangguk. Saat Helsa sudah tidak terlihat, keduanya saling menatap.
“San, kuharap Helsa tidak marah pada kita,” gumam Rani perlahan.
“Iya,” jawab Susan singkat.
Keduanya lalu melanjutkan untuk membeli barang-barang. Pertengkaran mereka terlupakan demi mencari benda yang tepat untuk Helsa. Setelah berkeliling toko selama dua jam, mereka menemukan barang yang sesuai.
Rani dan Susan lalu menghias benda-benda itu sebelum dimasukkan ke dalam kotak. Akhirnya, selesai juga kotak ceria yang mereka buat.
Keesokan harinya, tepat pukul 10 pagi, Rani dan Susan sudah tiba di depan rumah Helsa. Hari ini sekolah libur sehingga mereka bisa datang lebih cepat. Mereka menekan bel pintu. Begitu Helsa membuka pintu, keduanya langsung berseru.
            “Helsa, selamat ulang tahun!”
            Helsa mengucapkan terima kasih. Ia kemudian mengajak keduanya masuk ke dalam.
            “Kupikir, kalian tidak ingat,” ucap Helsa dengan sedih.
            “Kenapa kamu berpikir seperti itu?” tanya Rani.
            Helsa kemudian menceritakan kegelisahan dan kesedihannya selama beberapa hari yang lalu. Setelah selesai mendengarkan, Rani dan Susan menunduk.
            “Helsa, kami tidak benci padamu. Kami hanya sedang sibuk menyiapkan ini,” ucap Susan sambil menyerahkan sebuah kotak yang dilapisi dengan kertas bergambar hati dan pita-pita di sekelilingnya.
            “Apa ini?”
            “Hadiah ulang tahun,” ucap keduanya berbarengan.
            Helsa kemudian membuka kotak itu dan menangis. Di dalam kotak terdapat berbagai macam permen, kertas catatan berbentuk bintang, jepit rambut yang lucu, buku album kenangan, serta dua surat dari sahabatnya.
            “Helsa, kenapa kamu menangis?” tanya Rani panik. “Susan, apa yang harus kita lakukan?”
            Susan juga kebingungan. “Kotak ini namanya kotak ceria. Harusnya kamu tertawa bukannya menangis.”
            “Ini bukan tangis sedih,” ucap Helsa.“Ini tangis bahagia. Terima kasih atas kado yang indah,” senyum Helsa.
            Rani dan Susan tersipu malu. Ketiganya saling berpelukan dan tertawa bersama. Rani dan Susan senang karena hadiah mereka sukses membuat Helsa ceria. Sementara, Helsa tersenyum lebar karena memliki dua sahabat yang paling hebat. Hari itu menjadi hari yang tidak terlupakan bagi ketiganya.



9 Mar 2017

Ogie

Dimuat di Majalah Bobo Edisi 41, 14 Januari 2016


Ogie
Oleh Dian Sukma Kuswardhani

            Pak Mitmut kesal sekali. Ia harus memperbaiki tempat tinggalnya yang rusak. Menurut Pak Mitmut, semua itu karena Ogie gajah yang tidak hati-hati.
            Ogie menggoyang-goyangkan belalainya. Ia sudah minta maaf, tapi Pak Mitmut masih saja cemberut.
            “Aku tidak sengaja menginjak rumahmu, Pak Mitmut. Aku tidak melihatnya,” ucap Ogie menyesal.
            “Tadi kan aku sudah berteriak memperingatkanmu, Ogie. Lihat, sekarang aku kehilangan waktu untuk mencari makanan bagi anak-anakku,” bentak semut hitam itu.
            “Ya, aku mendengarmu. Tapi aku tidak tahu kau dimana,” kata Ogie membela diri.
            “Tentu saja. Telinga lebarmu itu pasti mendengar suaraku. Sayangnya matamu terlalu kecil untuk menemukanku,” sindir Pak Mitmut.

5 Mar 2017

Keluh Kesah Nona Cilla


Dimuat di majalah Bobo


                                                     Keluh Kesah Nona Cilla 
                                                                 Oleh : Noasana
Tak ada yang mau menyapa Nona Cilla, meski hanya sekedar basa-basi. Bukan karena Nona Cilla angkuh atau tak ramah. Hanya saja, setiap kali disapa, Nona Cilla akan menanggapi dengan keluh kesah.
Tiga minggu yang lalu, Tuan Hank yang terburu-buru, menyapanya. Nona Cilla sedang merawat tanamannya.
“Selamat pagi, Nona Cilla!”
“Apa maksud Anda, Tuan Hank?” Nona Cilla meletakkan alat penyiram bunganya. “Anda bangun jam berapa? Saya saja sudah bangun sejak sebelum ayam jantan berkokok. Padahal semalaman saya susah tidur, gara-gara obat nyamuk yang saya beli di toko Tuan Kimo tidak bagus kualitasnya.”
Mau tak mau, Tuan Hank berhenti mendengarkan keluh kesah Nona Cilla.
“Lihatlah jam tangan Anda, jam berapa sekarang?” tanya Nona Cilla ketus.
Tuan Hank melirik pergelangan tangannya. “Wah, sudah hampir jam delapan!” Tuan Hank panik dan bergegas pergi. Bisa-bisa dia terlambat tiba di kantor.
Suatu sore, Nyonya Vera hendak ke bandara. Nyonya Vera berencana pergi ke luar negeri mengurusi bisnisnya.
“Wah, rajin sekali, Nona Cilla!” Nyonya Vera menyapa Nona Cilla yang sedang memotong rumput.
Nona Cilla mendongak dan meletakkan gunting rumputnya. “Anda tahu tidak, Nyonya Vera? Saya menyesal menanam rumput peking. Semua gara-gara Tuan Jack, dia membujuk saya membeli rumput pekingnya dengan harga murah. Ternyata, begini hasilnya. Saya harus rajin-rajin memangkas dan mencabut tanaman liar yang tumbuh diantara rumput. Harusnya saya membeli rumput gajah mini. Biar pun harganya lebih mahal, tapi hasilnya lebih bagus.” Nona Cilla menggerutu.
Nyonya Vera jadi tak enak hati. Padahal, dia hanya ingin menyapa sebagai tetangga, tapi malah mendengar keluhan Nona Cilla. Nyonya Vera semakin tak enak hati karena Tuan Jack adalah penjual bunga langganannya.
“Tapi, bukannya Tuan Jack orang yang ahli pertamanan, Nona Cilla?” Nyonya Vera merasa perlu membela Tuan Jack. “Mungkin Tuan Jack menyesuaikan kondisi tanah di taman Nona Cilla. Atau disesuaikan dengan model rumah Nona Cilla.”
“Huuhh…” Nona Cilla mendengus. “Pasti bukan karena itu. Tuan Jack menganggap aku tidak punya cukup uang untuk membeli rumput gajah mini.”
Nyonya Vera kehabisan akal. Tak ada gunanya berdebat dengan Nona Cilla. Dia selalu berprasangka buruk kepada orang lain. Dan yang lebih penting, sekarang sudah jam…
“Oohh, aku bisa ketinggalan pesawat!” Nyonya Vera melihat jam tangan mewahnya.

“Sudah seminggu ini, tak ada orang yang lewat depan rumah,” gumam Nona Cilla suatu sore. “Sepertinya semua orang menghindar supaya tidak melewati depan rumahku,” batin Nona Cilla.
Nona Cilla merenung, mengingat kembali apa yang telah dilakukannya kepada orang-orang. Tuan Kimo, Tuan Hank, Nyonya Vera, Tuan Jack, Bibi Lina yang kemarin harus kena marah majikannya karena terlalu lama mendengarkan keluh kesahnya.
Nona Cilla menghela napas. “Aku tidak bermaksud membuat kesal orang-orang,” gumamnya.
Sebenarnya Nona Cilla hanya butuh ada orang yang mendengarkan keluh kesahnya. Ah, kalau saja Nona Rose masih di sini. Nona Rose adalah sahabat Nona Cilla. Hanya Nona Rose satu-satunya orang yang memahami watak Nona Cilla. Sebulan yang lalu, Nona Rose harus pergi jauh karena dipindah tugas.
Nona Cilla terisak. Dia sangat merindukan Nona Rose. Nona Cilla membuka lemari bukunya. Tangannya meraih sebuah benda yang terbungkus rapi. Benda itu kenang-kenangan dari Nona Rose. Karena kesedihan yang mendalam harus berpisah,  Nona Cilla belum membukanya.
“Apa, ini?” gumam Nona Cilla.
Sebuah buku tebal bersampul biru, warna kesukaan Nona Cilla. Ada gembok mungil berikut kuncinya. Juga ada pena biru yang unik. Nona Cilla membuka gembok dan membalik lembar pertama. Oh, ada tulisan Nona Rose untuknya…
“Nona Cilla, sahabatku. Aku tahu kamu butuh orang yang mau mendengarkan keluh kesahmu. Maaf, karena aku harus pergi. Buku diary ini sebagai ganti kehadiranku. Kamu bisa menulis apa saja yang kamu rasakan. Suatu saat, aku ingin membacanya bersamamu.”
Nona Cilla tersenyum haru. Kalau saja dia membuka kenang-kenangan dari Nona Rose sejak awal, tentu orang-orang tidak akan merasa kesal. Besok pagi, Nona Cilla akan meminta maaf kepada Tuan Kimo, Tuan Hank, Nyonya Vera, Tuan Jack, dan Bibi Lina.