Saturday, 28 January 2017

Kecerdikan Pangeran Villigo

Dimuat di Majalah Bobo


Kecerdikan Pangeran Villigo
Oleh. Ruri Irawati

            Raja Picolo memimpin sebuah kerajaan kecil bernama Kerajaan Lishoto. Raja Picolo sebetulnya mempunyai seorang putera bernama Pangeran Villigo. NamunPangeran Villigo mempunyai penyakit yang aneh.Orang pasti ketakutan kalau melihat wajahnya. Itu sebabnya sang pangeran hampir tidak ernah keluar istana. Ia pun sering memakai topeng penutup wajah.
            Pangeran Villigo sudah beranjak dewasa. Raja Picolo ingin puteranya segera menikah. Sudah banyak putri kerajaan tetangga yang diundang ke Lishoto. Namun tak ada yang berani menikah dengan pangeran.

Thursday, 19 January 2017

Misi Rahasia Peri Rury


Dimuat di Majalah Bobo

Misi Rahasia Peri Rury
Oleh: Agnes Dessyana

            “Besok aku akan melaksanakannya!” teriak Peri Rury di dalam kamarnya. “Ini pasti bisa membuat dia kembali ceria.”
Peri Rury kemudian menuliskan barang-barang yang diperlukan untuk memberikan kejutan bagi kurcaci sahabatnya. Peri Rury sangat bersemangat untuk membuat sahabatnya itu tidak murung lagi. Peri Rury tertidur sambil membayangkan senyum bahagia dari sahabatnya itu.
Keesokan paginya, Peri Rury bangun lebih pagi untuk menjalankan misi rahasianya. Pertama-tama, Peri Rury menyelesaikan tugas utamanya, yaitu mengumpulkan kelopak bunga untuk Peri Rumi, si peri penjahit.
“Oh, Peri Rury. Kamu sudah datang pagi-pagi?”
“Iya, Peri Rumi,” angguk Peri Rury. “Aku harus mengerjakan sesuatu nanti siang.”
“Mengerjakan apa?” tanya Peri Rumi penasaran.
“Hehehe, itu rahasia,” ucap Peri Rury.

Monday, 16 January 2017

Kue Cokelat Panggang untuk Ibu

                 
Ilustrasi Diani Hapsari

           Kue Cokelat Panggang untuk Ibu
                                      Bambang Irwanto

“Aduh... gosong lagi,” keluh Lipi saat mengeluarkan kue cokelat dari dalam oven.
Pili yang melihat asap mengepul-ngepul segera menghampiri saudara kembarnya itu.
“Yah..gosong.” seru Pili kecewa. “Padahal Ibu sudah mengajarimu cara memanggang kue.”
“Maafkan aku ya, Pi,” ucap Lipi menyesal. “Padahal aku sudah berusaha, tapi sayangnya aku lupa mengecilkan api kompor.”
“Ya, sudah. Tidak apa-apa kok. Yuk, kita membeli bahan kue lagi. Masih ada waktu kok, sebelum Ayah dan Ibu pulang.”
Lipi mengangguk.
Hari minggu ini, Lipi dan Pili berencana membuat kue bolu cokelat panggang untuk Ibu, sebagai hadiah ulang tahun. Makanya sejak pagi mereka sibuk di dapur. Ayah dan Ibu sedang pergi ke rumah Paman Kilu, adik Ibu.
Lipi dan Pili segera menuju toko Pak Hud di ujung desa. Bruk... Tiba-tiba Lipi dan Pili mendengar sesuatu, saat melewati kebun bunga Nenek Arita. Mereka bergegas melihat apa yang terjadi.
“Wah.. Nenek Arita terjatuh!” seru Pili sambil masuk ke kebun bunga dan membantu Nenek Arita berdiri. “Nenek tidak apa-apa?”
Nenek Arita menghapus keringat di dahinya. Iya, saya lelah sekali,” keluh Nenek Arita.
“Seharusnya Nenek beristirahat saja,” kata Lipi.
“Iya. Tetapi bunga-bunga di kebun harus segera dipetik. Sebentar lagi Pak Ron akan datang mengambil bunga untuk dijual di pasar.”
Pili menyenggol lipi. “Kita bantu Nenek Arita, yuk!”
Lipi terdiam sejenak. “Aduh...nanti kita telat membuatkan Ibu kue cokelat panggang.”
“Sebentar saja,” bujuk Pili.
Lipi akhirnya setuju. Ia dan Pili membantu Nenek Arita memotong bunga Lili. Ternyata bunga yang hendak dipanen banyak sekali. menjelang siang pekerjaan Lipi dan pili baru selesai.
“Wah.. Nenek Arita tertidur. Kita letakkan saja bunga-bunga Lili ini di teras,” kata Pili.
Setelah pekerjaan selesai, Lipi langsung menarik tangan Pili menuju toko  Pak Hud.
“Pak, kami ingin membeli bahan kue,” kata Lipi.
“Sayang sekali. tepung terigu baru saja habis. Nyonya Amelia memborong sekarung, karena besok ada pesta kecil di rumahnya,” kata Pak Hud.
Lipi langsung kecewa. “Aduh bagaimana ini, Pi?” semua gara-gara kamu yang membatu Nenek Arita.”
“Ya, mau bagaimana lagi. Masa kamu tega melihat Nenek Arita,” bela Pili.
Lipi berjalan pulang. Pili mengikuti langkah Lipi. Sepanjang perjalanan Lipi diam saja. Ia kesal sekali pada Pili.
“Lipi, Pili... ayo kemari!” panggil Nenek Arita saat Lipi dan Pili melintas di depan rumahnya.
Uh, pasti Nenek Arita meminta bantuan lagi, gumam Lipi kesal. Wajahnya langsung cemberut.
Lipi ingin berjalan pulang, tetapi Pili sudah menarik tangannya untuk menghampiri Nenek Arita yang berdiri di depan rumahnya.
“Nenek sudah sehat?” tanya Pili.
“Iya, Nenek tadi tertidur. Maaf ya, kalian pulang saat Nenek tidur. Padahal kalian sudah membantu Nenek.”
“Tidak apa-apa, Nek. Kami memang harus segera ke toko Pak Hud membeli bahan kue.”
“Oh ya. kalian ingin membuat apa?” tanya Nenek Arita.
Pili segera menceritakan pada Nenek Arita.
“Aduh, kasihan sekali. Gara-gara Nenek, kalian kehabisan tepung terigu. Ehm tapi Nenek ada akal. Ayo masuk!” nenek Arita membuka pintu lebih lebar.
Pili segera mengikuti Nenek Arita, sedangkan Lipi di luar saja.
“Lipi, ayo masuk!” ajak Pili.
“Uh.. pasti Nenek Arita ingin meminta bantuan kita lagi,” keluh lipi.
Lipi dan Pili menyusul Nenek Arita di dapur. Nenek Arita segera membuka lemari dapurnya. Ia mengeluarkan terigu, mentega, telur, cokelat.
“Nenek mau membuat kue?” tanya Lipi.
Nenek Arita mengangguk. “Iya, kue untuk Ibu kalian.”
“Betulkah, Nek?” tanya Lipi tidak percaya. Wajahnya langsung ceria.
“Iya, kalian kan, sudah membantu nenek. Kalian mau membantu nenek membuat kue kan?”
“Mau, Nek!” jawab Lipi dan Pili kompak.
Lipi membantu mengocok telur, sedangkan Pili membantu mengolesi margarin. Sebentar saja kue cokelat panggag sudah jadi.
“Wah... harumnya, Nek.” Puji Lipi
“Pulanglah, Ibu kalian pasti sudah menunggu.”
Setelah mengucapkan terima kasih, Lipi dan Pili pulang dengan gembira.
“Untung ada Nenek Arita ya, Pi. Kita bisa memberikan kue cokelat panggang untuk Ibu,” kata Lipi gembira.
“Iya dan dijamin rasanya enak dan tidak gosong,” goda Pili.
“Ah... Pili,” pipi Lipi bersemu merah.

Thursday, 12 January 2017

Lima Langkah-langkah Menulis Cerita Anak

Ilustrasi : Lily Zhai

Salam, Teman-teman Rumah Kurcaci Pos...
Siapa yang suka menulis cerita anak? Toss dulu, deh. Berarti sama dong, dengan Kurcaci Pos. Kalau teman-teman suka menulis cerita apa? Cerpen, dongeng, fabel, atau yang lainnya?
Nah, kali ini Kurcaci Pos mau berbagi tips cara menulis cerita anak. Langkah-langkah Kurcaci Pos setiap menulis cerita anak. Yuk disimak saja tipsnya.

1.      Ide Cerita
Ide cerita harus ada saat kita ingin menulis sebuah cerita. Kalau tidak ada ide, apa yang mau ditulis? Hehehe. Nah, ide itu ada di mana saja, bisa di dapat kapan saja, bahkan sudah ada di depan mata kita. Jadi tinggal kita jeli menangkapnya.

2.      Tentukan Konflik
Setelah mendapatkan ide, maka kurcaci pos akan langsung menentukan konflik cerita. Ini sangat perlu, lho. Konflik cerita harus ada dalam setiap cerita. Karena konflik itulah yang akan diselesaikan dalam cerita. Tanpa konflik, maka cerita akan lurus dan datar. Seperti membaca sebuah buku harian saja.

3.      Tokoh Cerita
Ide dan konflik sudah ada. Selanjutnya, tentukan tokohnya. Jadi Kurcaci Pos selalu menyesuaikan tokoh dengan konfliknya. Biar ceritanya semakin menarik. Nah, tokoh dalam cerita minimal 3. Jangan 2, apalagi 1 tokoh. Dijamin ceritanya akan monoton. Tokoh-tokoh inilah yang akan menyampaikan isi cerita kita.

4.      Ending Cerita
Langkah selanjutnya, Kurcaci Pos akan menentukan Ending cerita dulu. Kok ending cerita dulu, bukan alur cerita?
Jadi menurut kurcaci Pos, akan lebih mudah memnyusun alur, kalau kita sudah tahu endingnya. Ibaratnya, kalau kita sudah menentukan tempat yang akan kita tuju, maka akan lebih mudah memikirkan bagaimana kita bisa sampai ke tempat tujuan itu.

5.      Alur Cerita
Ide, konflik, tokoh, dan ending sudah siap. Saatnya Kurcaci Pos menyusun alur sesuai endingnya. Kurcaci Pos suka menulis alur yang berliku-liku. Maksudnya tokohnya tidak mudah mendapatkan apa yang dia inginkan, atau tidak mudah selesai masalahnya.

           Nah, demikian tips menulis cerita dari Kurcaci Pos. Ini hanya patokan dasar saja, ya. nanti saat Sahabat Kurcacies terus menulis, maka akan sendirinya akan berproses. Maka saat menulis, tidak selamanya dimulai dari ide dulu. Bisa dapat tokohnya duluan, konfliknya duluan, endingnya duluan, bahkan alurnya duluan, termasuk pesan moralnya. Jadi tinggal dikembangkan saja.
Salam semangat menulis...

Kurcaci Pos

Jejak-jejak Menulis Bambang Irwanto